Jogja Istimewa

Ketika Mas Estu bilang hendak ke Jogja sekitar 2 minggu untuk produksi film Menerjang Batas di akhir Maret sampai awal April, saya langsung dapat ide untuk menyusul pada libur Paskah 6 April. Curi-curi waktu untuk liburan judulnya. Pemesanan tiket via online saya tempuh walau rata-rata penerbangan 5 April sampai 8 April itu membengkak harganya, diatas Rp.500 ribu semua. Ah, gak peduli! Pokoknya jalan-jalan….

It was the day!

Dari seminggu sebelumnya saya sudah semangat membayangkan ke Jogja lagi. Entah kenapa selalu semangat jika mengunjungi kota itu. Apalagi, Mas Estu pernah kuliah di sana, jadi aman sentosa deh jalan-jalan keliling Jogja tanpa ‘roaming’ bahasa 🙂

Selama 3 hari 2 malam, ditengah waktu yang agak padat itu kami sempat bertemu dengan Bapak Ibu dan keluarga dari Wonogiri, bolak-balik Jogja-Solo, dan beli oleh-oleh. Tapi, kami senang banget! Apalagi setelah ke Solo, Mas E tiba-tiba kepingin hidup di sana. Wuuaaa…, tapi oke juga. Suasananya tenang dan banyak makanan enak + murah.

Oh ya, sekadar berbagi cerita, siapa tahu informasi dibawah ini bisa membuat Anda ingin atau kembali ke Jogja.

1. Pecel Magetan (seberang Hotel Royal Ambarukmo, Jl. Solo – Sleman)

Pucuk dicinta, ‘pecel’ pun tiba. Di saat lapar belum sarapan pagi, dekat losmen ada warung pecel yang ramai. Terbitlah air liur. Makin ngiler lagi karena dengan porsi besar (nasi, sayuran, bumbu pecel, telur dadar besar, kerupuk, tahu + tempe goreng, teh manis) berdua, harganya cukup Rp. 12.000 saja. Kenyang puooll!! Kami doakan ibu, sang penjual, masuk surga!

image

2. Wisma Prambanan 2

Masih di sekitar Jl. Solo dekat Hotel Royal Ambarukmo (sekarang tampilan hotelnya baru dan bagus sekali. Seperti gedung-gedung antik 80-an), kami menginap di losmen ini. Harganya tidak sampai Rp. 200rb per malam. Penjaganya pun baik, deh. Untung selepas Mas Estu menjemput saya pagi-pagi di Bandara Adisucipto, kami langsung masuk kamar dan istirahat sebentar. Padahal, Mas Estu booked untuk nanti siang. Kamarnya juga bersih dan luas plus AC dengan fasilitas standar penginapan. Sarapannya pun cukup roti bakar, teh manis, telor rebus, tapi cukup untuk mengisi perut kami sampai siang. Asyiknya, kami langsung diantar becak sampai depan pintu kamar dan naik taxi dari depan kamar juga. Hehehe, hebat ‘kan?

3. Stadion Maguwoharjo, Jogja & Stadion Manahan, Solo

Kalau kesini karena saya menemani Mas Estu jadi kru syuting. Agak menyesal juga, gak nekat ke lapangan hijau buat foto-foto 😀

Syuting di Stadion Manahan

4. House of Raminten

Penasaran karena teman asal Jogja merekomendasikan untuk mampir makan di resto ini. Selain keunikan orientasi seksual yang terkenal di tempat ini (googling saja untuk lebih komplitnya), kami harus antri untuk dapat meja di malam sabtu. Antriannya gak tanggung-tanggung, mirip antrian di stasiun. Rammmeeeee! Tapi, nuansa jawanya sangat kental. Pelayan perempuan pakai kain+kemben, pelayan pria pakai atasan semi beskap. Banyak foto-foto penampilan Raminten saat beraksi di panggung teater, dan bagi yang tidak suka bau kemenyan, mungkin agak sedikit pusing. Hampir setengah jam kemudian nama kami dipanggil. Ternyata, makanannya lumayan enak, kok. Harganya juga standar. Kami pesan nasi pepes tuna, otak-otak, french fries, es krim bakar. Wajib dicoba kentang gorengnya. Gurih dan bikin nagih!

5. Kraton Jogja

Dari depan kraton, banyak tukang becak yang menawarkan keliling sekitar luar kraton. Hanya Rp. 5000, Anda bisa mampir di Museum Stasiun Kereta, toko-toko kaus dan batik, serta area jual souvenir lainnya. Tiket masuk ke kraton dipatok cuma Rp. 3.000 per orang.

masuk dibag.dpn kraton jogja, tegel bintang bersudut 8 ini bermakna utk mengingatkan kejayaan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII sekaligus yg merenovasi kraton pd masa itu *kata pemandu

6. Bakpia Java

Selain bakpia 25 atau bakpia Kurnia Sari, saya kepingin coba bakpia Java. Outletnya banyak di Jl. Solo, daerah Sleman arah Bandara. Ternyata, enak juga.

Nah, ini memang baru sedikiiiit sekali informasi tempat wisata di Jogja. Saat itu pun ada event di Vredeburg yang saya lewatkan. Maka, saya berniat balik ke Jogja lagi dengan mengunjungi:

1. Museum Affandi

2. Gudeg Yu Djum

3. Rumah warna-warni peninggalan Romo Mangun di Kali Code

tetap dengan suami, dong!  Urusan tawar menawar saat belanja pun lancar 🙂 Ya, Jogja (memang selalu) istimewa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Anotherorion's Side Blog

Side Story of Anotherorion

greendaycee

penulis yang hanya ingin "melepaskan" sedikit beban otak

Kamu Itu Beda

be yourself, everyone else already taken

%d blogger menyukai ini: