Article of the Day…

Writer’s block. Setiap bulan selama tiga tahun ini di kantor menulis seluruhnya hal yang positif, soal brand building, motivation, life insurance, family tips, and so on. Di tengah proses belajar menulis, tersadar saya sudah jarang baca buku. Buku apapun. Baca majalah pun sudah jarang. Haus bacaan yang bisa mengikis sedikit demi sedikit “tembok mati ide” di kepala.

Jadi, begitu ada tulisan ini di Majalah Tempo dari kolomnya salah seorang pengurus NU, senangnya bukan main. Suka! Di tengah hangatnya isu batalnya konser Lady Gaga dan pembubaran secara anarkis diskusi buku karya Irshad Manji, saya seperti dapat penyegaran kosakata. Saya  kutip sebagian tulisan ini yang lengkapnya ada di Majalah Tempo edisi 14-21 Mei 2012; Astaga Sukhoi.

———————–

Nahi Munkar Yang Munkar

Ketika menjabat khalifah, Umar bin Khattab suatu kali berjalan-jalan menyusuri Madinah. Begitu sampai di salah satu sudut kota, Khalifah Umar mendapati sebuah rumah yang beliau curigai sedang dipakai untuk bermaksiat. Sang Khalifah ingin memastikannya, tapi rumah itu tertutup rapat. Beliau pun memaksa masuk melalui atap. Dan benar saja, tuan rumah sedang asyik bermaksiat di rumahnya. Langsung saja Khalifah Umar menghentikannya, dan hendak menangkapnya. Anehnya, pemilik rumah justru tidak terima. Ia mengaku memang telah berbuat dosa. Tapi, menurut dia, dosanya cuma satu. Sedangkan perbuatan Umar yang masuk rumahnya lewat atap justru melanggar tiga perintah Allah sekaligus. Pertama, mematai-matai (tajassus), yang jelas dilarang dalam Al-Quran (Q 49 : 12); masuk rumah orang lain tidak melalui pintu seperti yang diserukan Quran (Q 2 : 189); dan tanpa mengucapkan salam, padahal Allah memerintahkannya (Q 24 : 27). Menyadari kesalahan tindakannya, Khalifah Umar akhirnya melepaskan orang tersebut dan hanya menyuruhnya bertobat.

(…….)

Dalam tulisan tersebut juga menyinggung soal hadis berikut:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dan saya setuju dengan pernyataan si penulis bahwa bagi ormas Islam tertentu (sebut saja FPI), praktik nyata menjalankan perintah Nabi untuk “mengubah kemunkaran dengan tangan” mencerminkan iman yang paling kuat dan tegas. Maka tidak mengherankan kalau dukungan terhadap FPI juga muncul dari sejumlah kalangan Islam di luar FPI, dari ustad sampai orang awam.

Hmmm, dengan segala keterbatasan saya dan setuju dengan isi tulisan tersebut: tindakan brutal FPI yang main hakim sendiri juga perbuatan munkar kan?

*kangen dengan bacaan kisah-kisah budi pekerti Nabi Muhammad SAW yang agung dan menjunjung tinggi kesantunan

Iklan
Dengan kaitkata ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Anotherorion's Side Blog

Side Story of Anotherorion

greendaycee

penulis yang hanya ingin "melepaskan" sedikit beban otak

Kamu Itu Beda

be yourself, everyone else already taken

%d blogger menyukai ini: