Revolusi Mental Bukan Karena Jokowi, Tapi Karena Harus

 

10514611_286157471591388_448126782317841933_n

Juli 2014 adalah momen seru negeri ini. Ada Piala Dunia 2014 yang bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan plus momen seru pemilu presiden. Dan jelang akhir bulan, tradisi mudik lebaran ”dibuka” dengan pengumuman pemenang pilpres.

 

Ya, Joko Widodo ditetapkan bersama Jusuf Kalla oleh Komisi Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pemenangn pilpres. Lalu mencuatlah Revolusi Mental, yang menurut saya sebuah konsep baru memperbaiki negeri ini.

 

Pada awalnya, ada sebuah kolom di media massa dengan judul Revolusi Mental. Tulisan itu muncul pada 10 Mei 2014 di Koran SINDO dan Kompas dengan penulis beda, Romo Benny Susetyo dan Joko Widodo. Maka ramailah tulisan itu dan muncul saling hina (bukan para penulisnya yang saling hina) di sosial media kalau ada unsur plagiator dari salah satu penulisnya.

 

Tapi setelah semua lama berlalu dan orang-orang mulai lupa, pagi ini (Kamis, 24 Juli 2014) saya kok tiba-tiba ingat Revolusi Mental. Dan saya pun ingin menuliskan dua kata itu dalam sebuah tulisan panjang. Karena, Revolusi Mental itu bagi saya harus dimiliki semua orang Indonesia, dua kata itu adalah sebuah konsep yang wajib dipelajari, dipahami, lalu dilakukan.

 

Bangsa Indonesia sudah lama diseragamkan oleh rezim Orde Baru (Orba), banyak larangan dan banyak sekali represi terhadap kebebasan. Lalu 1998, Suharto berhasil diturunkan dari penguasa tunggal otoritarian berkedok Pancasila dan lahirlah reformasi.

 

Ternyata, reformasi pun sama saja sampai pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono jelang akhir. Sebab, ketika dunia makin maju, SBY dan rezimnya masih memakai para pengampu negara yang otak udang.

 

Contoh kecil adalah komentar Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Tifatul Sembiring yang berucap,”Buat Apa Internet Cepat?”. Itu salah satu contoh dari jawaban ala Orba dari pejabat Negara, arogan, tak mikir, dan menunjukkan kekuasaan. Tapi sebenarnya masih banyak contoh lain.

Kembali ke Revolusi Mental. Menurut saya, Revolusi Mental secara filosofis harus dilaksanakan bukan dari Jokowi sebagai presiden baru atau wapresnya plus para menteri termasuk petinggi negeri ini. Tapi, dua kata itu harus dimulai dari bawah, dari manusia Indonesia.

 

Karena Revolusi Mental itu menurut saya bersifat sangat individu. Artinya, ketika itu dari manusia ke manusia, maka si manusia itu dulu yang wajib melakukan Revolusi Mental mereka. Si suami tak lagi ego ketika istri sakit dan harus mengurus rumah.

 

Si pedagang keliling tak harus iri dengan si juragan pemilik toko kelontong, kalau si pedagang itu mampu menabung dari hasil kerjanya. Lalu tabungan itu ia sisihkan untuk konsep masa depannya, pasti tak akan kesulitan.

 

Lalu yang lebih sederhana lagi adalah melakukan Revolusi Mental seperti memperbaiki diri sebagai manusia yang lebih bersih atau tertata, dalam artian sesungguhnya. Yaitu, membiasakan buang sampah di tempat yang benar, merokok dengan memikirkan orang sekitar, belanja baju lebaran disesuaikan kebutuhan, memakai internet sesuai fungsi, dan banyak hal lainnya.

 

Nah, Revolusi Mental kenapa baru dijalankan sekarang? Ini momen, ketika eksistensi sebuah kekuasaan (baca pemerintahan SBY) segera selesai, maka itulah saatnya memulai lagi. Tak perlu melupakan yang sebelumnya, tapi memulai sambil memperbaiki apa yang sudah ada dari kita para manusia Indonesia.

 

Sama halnya dengan momen mudik, bukan pulang kampungnya yang utama, tapi ”rasa” mengasihi kepada minimal orang terdekat kita pada momen suci lebaran. Sangat enak memulai Revolusi Mental versi mudik kali ini dengan hal baru tanpa harus meninggalkan yang lama setelah sebulan berpuasa, tentunya bagi yang Muslim.

 

Bagi yang non-Islam, juga seru memulai Revolusi Mental jelang hari kemerdekaan 17 Agustus, yang penting ada momen. Karena, momen itu bisa jadi penanda perubahan kita menjadi hal yang lebih baik.

 

Dan di akhir tulisan ini, saya coba sisipkan sebuah reff dari lagu berjudul LAWAN KEMISKINAN milik band melodicore Bunga Hitam:

 

”Rubah pola hidup

Lawan .. lawan kemiskinan …..

Sederhana bukan masalah

Lawan . lawan .. kemiskinan . lawan . lawan . kemiskinan”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Anotherorion's Side Blog

Side Story of Anotherorion

greendaycee

penulis yang hanya ingin "melepaskan" sedikit beban otak

Kamu Itu Beda

be yourself, everyone else already taken

%d blogger menyukai ini: