Hidup Baru (Untuk Kesekian Kalinya) #1

250916

Terhitung sejak 16 September 2016. Sebuah momen besar untuk hidup kami. Foto ini diambil saat hari ulang tahun ke-5 pernikahan. Lima tahun? Alhamdulillah, tetap seru 🙂

Huhuhu, 2016 ternyata kami hanya unggah 1 tulisan saja. Ya, satu2nya di bulan Agustus. Sebegitu sibuknyakah kami sampai gak sempat “curhat” sedikit saja di blog? 🙂 Setiap tahun bagi kami merupakan tahun yang dinamis, banyak cerita, seperti petualangan. Ada banyak mimpi, banyak rencana, namun tetap tenggelam dalam kesibukan. Nah, akankah 2017 seperti itu juga? Hmm, entahlah. Tapi, memang tahun 2017 ini kami seperti “diingatkan” lagi oleh Yang Maha Kuasa untuk menjalani hidup yang baru. Kok lead-nya jadi serius banget yaaakk, Sodara-sodara???

Setelah MasE adaptasi dengan baik di kantor baru per Februari 2016, kami menjalani “bulan-bulan” madu lagi untuk napas sejenak. Sebenarnya, sembari menghitung dana simpanan kami untuk renovasi rumah. Pasalnya, karena kami sudah muak dengan remah-remah rayap, kucing yang sok asik nimbrung hobi lahiran di atap, dan mumpung keuangan lagi stabil (alhamdulillah, hehehe). Bulan puasa kemarin pun kami mencoba untuk periksa ke SpOG lagi. Kali ini ke RS Hermina, Ciputat, ketemu dr. Marvin. Perjalanan ke RS Tambak juga antrian dr. Botefilia bikin kami tua di jalan, Pemirsah! Mengingat kami pasangan yang malas tapi sok super sibuk ini, jadilah pilihan kami yang masih seputar Tangsel, aja. Oh ya, bersyukur lagi tahun kemarin kedua orangtua Adel berkesempatan menjadi tamu Allah dan kembali haji dengan sehat selamat. Jreng jreng jreng…. semester dua tahun lalu, petualangan lainnya dalam hidup kami pun dimulai.

Momen naik haji Mama Papa menjadi awal momen besar bagi kami tahun kemarin. Senang, bersyukur, sekaligus waswas. Namanya juga orangtua pergi jauh, walaupun kami ikhlas karena pergi menyempurnakan ibadah rukun Islam. Kami menjaga dua rumah di Jakarta Pusat dan di Ciputat. Bukannya mengeluh, tapi, boooo, perjalanan Salemba – Cilandak seperti membelah Jakarta saking berasa jauhnya pulang pergi kantor. Badan jadi cepat jompo karena Jakarta yang macetnya makin gak masuk akal dan demi mengakali ongkos, Adel turun naik ojek plus mengandalkan Commuter Line. Angkat topi buat teman-teman yang rumahnya di ujung dunia buat ke kantor dan dilakukan setiap hari. Kalau kami, yah, fiks bakal nyanyi kayak Krisdayanti di pinggir trotoar. Ku tak sangguuuupppp… bila aku jauuuhhh…dari kantorkuuuu…..

Alhamdulillah, urusan Mama Papa beres. Tapi, kami langsung dapat wangsit untuk segera renovasi rumah. W-w-w-what? Si nyonya pun kebat-kebit hitung anggaran rumah tangga, timeline, pertimbangan emosi (yah, namanya juga perempuan yah, kebanyakan hormon kayaknya), ina ini inu. Tapi, the show must go on. Kapan lagi? Ya, kapan lagi! Tepat tanggal 16 September 2016, jam pasir dimulai. Duit udah ada semua? Ya, belumlah. Hahahaa. Kais-kais tabungan dulu pastinya. Sembari jalan renov, kami memutuskan untuk ambil KTA. Hmmm, tapi kok ribet, ya. Dihitung-hitung kayaknya mepet banget dana pinjaman via KTA. Akhirnya, setelah cari info sana-sini, kami memutuskan untuk cicil via KPR. Oke, ketok palu. Bukan tanpa halangan. Kami kira bisa langsung cair, at least hitungan minggulah. Ternyataaaaa….makan waktu sebulan juga. Dikarenakan prosedur juga, sih, mengingat kita juga pinjam ratusan juta rupiah. Kami pun belajar, begini toh, rasanya mau punya utang. Sakit perut, Neeeekkk! Seumur-umur, kami pernah punya utang karena ponsel. Itu pun cicilan 0% cuma 6 bulan dan dipotong ratusan ribu doang karena ponsel lama udah “Lem Biru”. Ada banyaaaakk cerita menegangkan buat kami dalam mengatur waktu antara kantor dan ke bank, follow up ke bank, negosiasi dengan orangtua kami supaya bersedia sertifikat rumah diagunkan, dan kenapa rasanya duit lama banget cairnya. Gregetaaaaannnn!

Yang seru, ditengah menunggu cairnya dana KPR itu, MasE harus hospitalized karena lutut kanannya sakit dan “ngunci” sampai gak bisa jalan. Padahal, kami baru menempati kontrakan petak sebulan dan biaya renovasi masih panjang. Ketemu dengan dokter ortopedi yang menangani lutut MasE sebelah kiri, kali ini problemnya mirip. Hanya bagian meniskusnya juga ada trauma di tempurung. Lutut kiri kanannya ini akumulasi dari cedera olahraga yang gak dirasa. Terakhir, MasE ikut pertandingan tenis di kantor terus pemanasannya gak maksimal. Selesai sudah. Solusi tercepat adalah operasi artroskopi di RS Omni Alam Sutera. Takut, khawatir, tapi pasrah campur jadi satu. Gak ada pilihan lain, kami setuju operasi. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan MasE cukup bedrest 3 hari di RS. Tapi, kurang dari seminggu setelah itu, MasE udah gatel pengen jalan ke…… mol! Gara-gara bosan di rumah. Hhhhhhh!

Petualangan jalan terus, terutama putar otak bagaimana caranya mendapatkan tambahan uang. Lagi-lagi kami kais-kais lagi tabungan yang kami punya. Tadaaaaa!!! Kami juga jadi collector! Gimana nggak, uang kami ada di tangan orang semua yang pinjam dan belum dikembalikan. Even for years!!! You will know others clearly until you lend them money. Itu bikin emosi banget, loh! *jadi curhat beneran, kan?* Seperti biasa, bujet yang dianggarkan realitanya membengkak berkali-kali lipat. Lek (Paman) kami yang memandori para pekerja membuka mata kami betapa rapuhnya rumah. Yaahh, memang ini waktunya, sih, batin kami begitu tahu kondisi rumah kami sebenarnya. Kayu yang sudah lapuk, susunan bata tidak rapi, tembok yang rapuh, instalasi listrik yang tidak bagus, dan lainnya membuat kami harus super ekstra irit. Beruntung kami percayakan semua dengan Lek kami yang juga memahami kondisi kami yang pas-pasan ini.Renovasi rumah pastinya lebih susah daripada bangun dari awal. Beragam perintilan yang menguras energi, waktu, dan otak, memberi pengalaman baru bagi kami juga. Sengaja kami turun tangan langsung, terutama MasE yang survey toko material sendiri, pilih semen, pilih bata, mengawasi cor, didatangi rumah kami setiap hari cek progress-nya, pokoknya sepenuh hati segenap jiwa dan rasa, deh!

Kalendar sudah berganti. Si tahun monyet sudah gantian sama si tahun ayam. Rumah pun masih belum selesai. Di bawah sadar kami pun stres sudah menggerogoti. Membayangkan rumah baru menjadi pembicaraan kami hampir setiap hari. Kami percaya, rumah itu seperti jodoh. Baiti jannati, rumahku surgaku. Rumah itu tidak hanya sekadar “rumah”, tapi tempat bernyawa yang sangat private, sakral, penting, besar, segalanya. Alasan untuk selalu pulang ke pelukan orang tersayang. Walau rejeki itu tetap datang dari AllahSWT dan harta itu tidak dibawa mati, namun menjaga apa yang sudah AllahSWT amanahkan kepada kami tetap harus kami jaga dan rawat. Insya Allah, rejeki akan hadir di rumah mungil kami 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Anotherorion's Side Blog

Side Story of Anotherorion

greendaycee

penulis yang hanya ingin "melepaskan" sedikit beban otak

Kamu Itu Beda

be yourself, everyone else already taken

%d blogger menyukai ini: