TBC & TTC Survivor: Anti Baper Baper Club

 

 

19955564_1430792066956908_8743965918964482048_n

Bohong banget gak baper pas ngetik curhatan ini 😀

 

I dedicate this post to people who survive with Tuberculosis and or fight with infertility in their body. Reality bites! So, i think i need to share you this is just a part of life from my own point of view. I decided to use “saya” to tell you my story, an ordinary story, but I thought it was not that easy to accept “that life” with all the sounds in your head and all of your fears—– Udah, ah, capek pakai Bahasa Inggris 🙂 Jadi, saya rasa perlu untuk mendokumentasikan di blog ini karena tibalah saatnya saya harus minum tiga butir Rifampicin terakhir dalam sembilan bulan. Rasanya bersyukur. Komitmen mandiri yang kuat untuk patuh minum obat sekali telan tiga biji yang seringkali bikin mual. Yes, gue bisa!

10 Februari 2017.

Tetap perlu percaya diri tinggi untuk menerima bahwa saya adalah pasien TB terhitung mulai tanggal itu. Selain tes darah karena saya demam -panas dingin- gak sembuh selama seminggu dan berat badan jadi 50kg dari 52 kg, ada sederet tes yang dilakukan dokter spesialis paru bahwa Anda terkena bakteri TB. Pertama, tes mantoux. Lapisan kulit kita disuntik ringan sebuah cairan lalu ditutup rapat perban beberapa hari. Jika dalam tiga hari bengkak atau ada reaksi seperti alergi, tandanya kena. Lalu, apa yang terjadi pada saya waktu itu? Negatif. Okeh, lanjut karena saya, suami, dan dokter masih penasaran. Kedua, tes dahak. Saya batuk kering dan itu mengganggu. Saya diberi obat pengencer dahak dan mengeluarkan dahak di wadah semampunya karena memang tidak berdahak. Hasilnya? Yak, negatif. Lanjuttt. Saya menjalani radiologi juga, paru-paru saya di foto. Dokter menemukan ada seperti awan di paru-paru sebelah kanan dan ternyata ada cairan. Ini semakin membuat dokter harus melakukan sedot cairan dan memeriksakan cairan tersebut di lab. Ketiga, tes cairan pleura. Dengan jarum segede jarum kasur, disuntikkan ke titik yang kiranya bisa mengalirkan cairan itu keluar. Sebelum disuntikkan jarum kasur itu, kulit saya diusap “bius” biar ga terlalu sakit pas ditusuk. Selama sekitar 15 menit, saya tidak boleh bicara atau bersin. Kalau tiba-tiba napas saya sesak, saya diminta untuk angkat tangan supaya dokter stop. Tapi, untungnya penyedotan lancar. Hasilnya sekitar 500 ml. Lumayanlah yaaa. Warnanya kuning muda seperti urine. Sehari setelah hari ulang tahun saya, saya masuk RS dan lima hari kemudian saya pulang. Dengan batuk yang semakin parah dan istirahat di rumah orangtua, saya bersabar menunggu bertemu dokter lagi dan membacakan hasil lab-nya.

Di RS Sari Asih Ciputat, Dokter Oeryana, Sp.P memeriksa lagi kondisi badan saya dan hasil lab. Naaahhh, baru ketahuan biang keladinya, yaitu bakteri TB di pleura. Apa itu pleura? Silakan googling! Saya baru tahu bahwa obat TB di Indonesia itu gratis karena Indonesia merupakan endemi TBC. Dokter menjelaskan dengan lengkap ada kertas kontrol yang harus saya bawa setiap jadwal periksa, ada Pengawas Minum Obat yakni keluarga supaya membantu pasien patuh minum obat, serta do’s dan don’ts sebagai pasien TB.

…………………………..

Sedikit lega karena TBC adalah pengobatan berbulan-bulan dan obatnya gratis, tis. Tapi, memori di otak membawa saya ke tahun 2007. Saya kena demam berdarah di hari ulang tahun saya dan itu penyakit yang bisa berakibat fatal jika tidak ditangani serius dan benar. Waktu itu, saya pikir kematian itu begitu dekat, ya. Sepulang saya dari RS Sari Asih dan di rumah, saya jadi berpikir itu lagi. Kematian sangat dekat karena ayah dari teman saya meninggal karena TB, begitu pun sahabat kecil saya yang tidak bisa bertahan dengan TBC di tubuhnya. Parno, cuy! Parnonya dobel pula karena saya takut menularkan bakteri ini kepada keluarga dan stigma penderita TB yang hampir sama dengan pasien HIV-AIDS. Bahkan, penderita HIV-AIDS tidak menularkan penyakitnya ketika kissing dengan pasangan, pasien TB dengan batuk malah bisa jadi menularkan. Kalau begini ceritanya, kapan saya bisa hamil 😦 Emosi campur aduk saat itu dan cuma bisa bilang, “Beraque-lah ini semua!” Paasss banget sepoi-sepoi dengar lagu Hujan Turun-nya Sheila on 7. Waktu hujan turun, di sudut gelap mataku. Begitu derasnya, kan ku coba bertahan.

April 2017.

Rifampicin tablet merah jadi sarapan sehari-hari selain dengan obat lain. Dua bulan itu saya rutin seminggu sekali kontrol. Minum obat jangan sampai terputus karena jika terputus maka ulang lagi dari awal. Dan itu mengerikan, sih! Efek samping Rifampicin tablet merah bisa berbeda-beda. Ada yang asam lambungnya jadi naik, diare, dan terganggunya fungsi liver. Kalau saya, mual sesekali dan bikin saya gampang BAB. Urine juga jadi berwarna kuning tua. Saya juga disarankan makan makanan berprotein tinggi, menghindari yang asem-asem (termasuk bau ketek asem) dan pedas untuk menjaga asam lambung. Selama dua bulan itu pula napas saya masih pendek jadi gampang capek. Tapi, cuek ajalah. Banyak kerjaan pula. Eh, hasilnya saya bedrest lagi di RS Sari Asih Ciputat dua kali dalam sebulan dalam kurun waktu dua minggu. Cairan pleura saya disedot lagi dan hasilnya 1,2 liter. Ntaps deh, pokoknya bikin suami pusing. Hiks! Gara-gara paru-paru saya ‘basah’ lagi. Padahal saya berharap dompet saya ‘basah’ alias banyak duit, eh ini malah paru-paru. Mau paru-paru manusia, paru-paru sapi, emang lebih enak paru-paru kering. But, in a different context, hahahahaha #apasih

Juli 2017.

Rifampicin tablet merah setiap hari satu kali diganti dengan dosis yang lebih sedikit, yakni Rifampicin tablet kuning dengan ukuran lebih kecil. Cukup 3 tablet sekali teguk selama tiga kali seminggu. Sampai di bulan ini, saya makin ‘bandel’ alias sudah rutinitas seperti biasa. Kalau efek obat TB bisa menggemukkan, saya gak sama sekali. Setiap kontrol, cek tensi dan berat badan. Hasil berat badan cuma 52, 53, kalau 54 rasanya kegirangan sendiri depan suster. Tapi 54 kg itu cuma beberapa kali diantara puluhan kontrol dokter. Huuuuhhh…

10 November 2017.

Horreeee, bulan ini kunjungan kontrol terakhir dan dokter sudah mengambil kertas kuning kontrol. Pertanda, saya tinggal menghabiskan sisa Rifampicin dan tidak perlu tebus obat TB lagi. Precisely, minum obat dari 10 Februari sampai 10 November sudah saya jalankan. Alhamdulillah. Tapi, saya harus tetap jaga kondisi tubuh, tidak boleh sering berada di kerumunan yang ramai, dan makan tinggi protein. Karena jika sudah sekali jadi pasien TB dan patuh obat sampai terakhir, bukan berarti jadi kebal bakterinya. Bisa jadi kambuh dan itu super amit-amit jabang bayi. Saya pakai masker setiap kali naik kendaraan umum, apalagi angin Jakarta ‘kan polusi banget, ya. Makanya, setiap ada bayi merah atau balita 1 tahun sudah diajak ke mol oleh orangtuanya, saya yang malah ngeri.. Jangan kira udara dalam mol itu bersih. Setiap manusia di dalamnya membawa bakat bakteri yang kita tidak pernah tahu itu apa. Termasuk saya yang hidupnya biasa aja laksana perempuan muda ceria, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan udah jarang makan di gerobak pinggir jalan + gak minum pakai es balok penghias kelapa muda atau teh manis, tetap aja kedapetan bakteri TB nemplok. Gimana hidup saya sembarangan, coba.

Sudah mau akhir tahun 2017. Ada apa di 2018 saya tidak tahu, meski saya sendiri sering diliputi kecemasan. Kayaknya setelan syaraf di otak saya ada yang gak longgar atau apa soal emosi. Dari ketidakstabilan emosi saya tahun ini, saya hanya bisa bersyukur dengan apa yang saya punya. Keluarga, harta, dan keselamatan yang Allah SWT kasih untuk saya. Padahal, ibadah saya masih jaaaauuuuuuuuuuuhhh dari kata ‘bagus’. Tapi, Allah SWT tetap sayang saya dengan cara-Nya. Salah satunya dengan menganugerahi saya suami super yang mau terima ‘kegilaan’ saya di rumah. Anti Baper Baper Club? Susah, sih, tapi ya, bisalah dicoba dulu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan
Anotherorion's Side Blog

Side Story of Anotherorion

greendaycee

penulis yang hanya ingin "melepaskan" sedikit beban otak

%d blogger menyukai ini: