Category Archives: Tentang Hidup

Hidup Baru (Untuk Kesekian Kalinya) #1

250916

Terhitung sejak 16 September 2016. Sebuah momen besar untuk hidup kami. Foto ini diambil saat hari ulang tahun ke-5 pernikahan. Lima tahun? Alhamdulillah, tetap seru 🙂

Huhuhu, 2016 ternyata kami hanya unggah 1 tulisan saja. Ya, satu2nya di bulan Agustus. Sebegitu sibuknyakah kami sampai gak sempat “curhat” sedikit saja di blog? 🙂 Setiap tahun bagi kami merupakan tahun yang dinamis, banyak cerita, seperti petualangan. Ada banyak mimpi, banyak rencana, namun tetap tenggelam dalam kesibukan. Nah, akankah 2017 seperti itu juga? Hmm, entahlah. Tapi, memang tahun 2017 ini kami seperti “diingatkan” lagi oleh Yang Maha Kuasa untuk menjalani hidup yang baru. Kok lead-nya jadi serius banget yaaakk, Sodara-sodara???

Baca lebih lanjut

Cinta, Bukan Takdir

Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus-menerus menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?

– Seno Gumira Ajidarma

“Piknik” Dimulai :)

20140925_184543(1)

25 September 2011 – 25 September 2014

Di tahun masehi itu, kami setiap tahun memperingati ulang tahun pernikahan. Dari 2008 kami saling mengenal, 2011 sah suami istri, 2014 saatnya kami membuat resolusi baru untuk hidup berdua. Tiga tahun gak berasa, lho! Kalau dirunut lagi, 6 tahun sudah kami ketawa nangis bareng. Tiga tahun yang seru, membahagiakan, menjengkelkan kadang, meresahkan juga, warna-warni deh pokoknya. Tapi, kami juga sadar semua itu pasti bakal lebih komplit kalau ada buah hati di tengah-tengah kami. NAH!

Baca lebih lanjut

Dengan kaitkata ,

Revolusi Mental Bukan Karena Jokowi, Tapi Karena Harus

 

10514611_286157471591388_448126782317841933_n

Juli 2014 adalah momen seru negeri ini. Ada Piala Dunia 2014 yang bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan plus momen seru pemilu presiden. Dan jelang akhir bulan, tradisi mudik lebaran ”dibuka” dengan pengumuman pemenang pilpres.

 

Ya, Joko Widodo ditetapkan bersama Jusuf Kalla oleh Komisi Pemilihan Umum (Pemilu) sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pemenangn pilpres. Lalu mencuatlah Revolusi Mental, yang menurut saya sebuah konsep baru memperbaiki negeri ini.

 

Pada awalnya, ada sebuah kolom di media massa dengan judul Revolusi Mental. Tulisan itu muncul pada 10 Mei 2014 di Koran SINDO dan Kompas dengan penulis beda, Romo Benny Susetyo dan Joko Widodo. Maka ramailah tulisan itu dan muncul saling hina (bukan para penulisnya yang saling hina) di sosial media kalau ada unsur plagiator dari salah satu penulisnya.

 

Tapi setelah semua lama berlalu dan orang-orang mulai lupa, pagi ini (Kamis, 24 Juli 2014) saya kok tiba-tiba ingat Revolusi Mental. Dan saya pun ingin menuliskan dua kata itu dalam sebuah tulisan panjang. Karena, Revolusi Mental itu bagi saya harus dimiliki semua orang Indonesia, dua kata itu adalah sebuah konsep yang wajib dipelajari, dipahami, lalu dilakukan.

 

Bangsa Indonesia sudah lama diseragamkan oleh rezim Orde Baru (Orba), banyak larangan dan banyak sekali represi terhadap kebebasan. Lalu 1998, Suharto berhasil diturunkan dari penguasa tunggal otoritarian berkedok Pancasila dan lahirlah reformasi.

 

Ternyata, reformasi pun sama saja sampai pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono jelang akhir. Sebab, ketika dunia makin maju, SBY dan rezimnya masih memakai para pengampu negara yang otak udang.

 

Contoh kecil adalah komentar Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo), Tifatul Sembiring yang berucap,”Buat Apa Internet Cepat?”. Itu salah satu contoh dari jawaban ala Orba dari pejabat Negara, arogan, tak mikir, dan menunjukkan kekuasaan. Tapi sebenarnya masih banyak contoh lain.

Kembali ke Revolusi Mental. Menurut saya, Revolusi Mental secara filosofis harus dilaksanakan bukan dari Jokowi sebagai presiden baru atau wapresnya plus para menteri termasuk petinggi negeri ini. Tapi, dua kata itu harus dimulai dari bawah, dari manusia Indonesia.

 

Karena Revolusi Mental itu menurut saya bersifat sangat individu. Artinya, ketika itu dari manusia ke manusia, maka si manusia itu dulu yang wajib melakukan Revolusi Mental mereka. Si suami tak lagi ego ketika istri sakit dan harus mengurus rumah.

 

Si pedagang keliling tak harus iri dengan si juragan pemilik toko kelontong, kalau si pedagang itu mampu menabung dari hasil kerjanya. Lalu tabungan itu ia sisihkan untuk konsep masa depannya, pasti tak akan kesulitan.

 

Lalu yang lebih sederhana lagi adalah melakukan Revolusi Mental seperti memperbaiki diri sebagai manusia yang lebih bersih atau tertata, dalam artian sesungguhnya. Yaitu, membiasakan buang sampah di tempat yang benar, merokok dengan memikirkan orang sekitar, belanja baju lebaran disesuaikan kebutuhan, memakai internet sesuai fungsi, dan banyak hal lainnya.

 

Nah, Revolusi Mental kenapa baru dijalankan sekarang? Ini momen, ketika eksistensi sebuah kekuasaan (baca pemerintahan SBY) segera selesai, maka itulah saatnya memulai lagi. Tak perlu melupakan yang sebelumnya, tapi memulai sambil memperbaiki apa yang sudah ada dari kita para manusia Indonesia.

 

Sama halnya dengan momen mudik, bukan pulang kampungnya yang utama, tapi ”rasa” mengasihi kepada minimal orang terdekat kita pada momen suci lebaran. Sangat enak memulai Revolusi Mental versi mudik kali ini dengan hal baru tanpa harus meninggalkan yang lama setelah sebulan berpuasa, tentunya bagi yang Muslim.

 

Bagi yang non-Islam, juga seru memulai Revolusi Mental jelang hari kemerdekaan 17 Agustus, yang penting ada momen. Karena, momen itu bisa jadi penanda perubahan kita menjadi hal yang lebih baik.

 

Dan di akhir tulisan ini, saya coba sisipkan sebuah reff dari lagu berjudul LAWAN KEMISKINAN milik band melodicore Bunga Hitam:

 

”Rubah pola hidup

Lawan .. lawan kemiskinan …..

Sederhana bukan masalah

Lawan . lawan .. kemiskinan . lawan . lawan . kemiskinan”

Mengapa Orang Lain Tidak Bisa Menerima kata ‘Belum’?

Hari ini, tepat seminggu setelah kami menjenguk orangtua di kampung halaman. Dalam rangka di bulan Ramadhan, meminta doa restu orangtua untuk segala cita-cita yang terus berubah dan melepas rindu dengan keponakan-keponakan yang makin beranjak besar. Semua tak sama. Tapi…

Ada satu yang tetap sama, pertanyaan kapan Adel hamil. Hahahaha. Manusiawi. Jawabannya, tentu saja sama dari tahun-tahun lalu: Belum. Tentu masih ada orang yang ‘paham’ akan jawaban kami. Arti dari kata ‘belum’. Tapi, banyak juga orang yang tidak paham atau selalu saja ‘kepo’ kapan kata ‘belum’ itu akan menjadi kata ‘sudah’.
Anyway, prioritas itu akan selalu ada, keinginan untuk memiliki momongan. Usaha pun ada, walau ‘belum’ intens. Masih menikmati hidup berdua yang santai, menabung untuk membeli sesuatu yang menyenangkan diri sendiri dan pasangan, merasakan kesibukan kerja setiap harinya. Sambil diantara sederet prioritas kami berdua, kami menyimpan semua doa tulus dan pengertian dari orang-orang sekitar yang ‘paham’ akan kata ‘belum’. Kami pun sering bergurau berdua, mungkin kami bisa membuat semacam buku berisi tips alternatif bagaimana segera hamil yang penyusunnya sebagian besar ‘belum’ mencoba tips-tips yang kami kumpulkan tersebut, seperti contohnya….

1. Berobat ke dr. Nadir Chan di RSIA YPK hasil rekomendasi rekan.

2. Banyak makan toge kapan pun di mana pun.

3. Pijat ke dukun bayi di daerah Halim, Jakarta Timur.

4. Mengunjungi ‘orang pintar’ di daerah Rawamangun, Jakarta Timur dan di Jelambar, Jakarta Barat.

5. Off bekerja.

6. Panjat sendiri pohon kelapa dan petik kelapanya sampai membawa turun kembali dari pohon.

7. Makan kurma hijau

8. Meminum air seduhan rebusan daun sirsak

9. Makan otak goreng kelinci.

10. Senam aerobik

11. <……………. Anda juga dapat memberikan sumbang saran yang dapat kami masukkan ke dalam list>

Setiap saran yang kami terima, kami sangat berterima kasih dengan segala kerendahan hati kami karena itu merupakan ‘doa’ dari orang-orang sekitar. Tapi, sungguh, keadaan kami sekarang ini sangat kami syukuri karena Alloh SWT pasti ‘paham’ mana yang terbaik untuk kami. Kami masih diberi kesempatan untuk mempersiapkan semuanya berdua, untuk satu waktu ketika kami sangat siap menerima anugerah. Apapun itu. Termasuk ketika harus dititipkan momongan. Jadi, apa adanya saja. Kata ‘belum’ itu seperti rentang waktu ketika alam semesta tetap bergerak maju dan kita ‘disiapkan’ menerima momen tersebut.

Tapi, please… ketika suatu saat teman-teman melihat Mas Estu sedang berusaha keras memanjat pohon kelapa, maaf kami tidak menerima pertanyaan. Karena kami bingung, kudu menjawab bagaimana 😀

19 Ramadhan 1434 H

Anotherorion's Side Blog

Side Story of Anotherorion

greendaycee

penulis yang hanya ingin "melepaskan" sedikit beban otak

Kamu Itu Beda

be yourself, everyone else already taken